Sabtu, 18 Mei 2013

Hubungan Surah Al-'Araf ayat 54 dengan Pendidikan



Hubungan surah A-‘Araaf ayat 54 dengan pendidikan.
Sesungguhnya tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, lalu dia bersemayam diatas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakannya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintahnya. Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan adalah hak Allah. Maha suci Allah tuhan semesta alam”.
Terjemahan surah Al-‘Araf ayat 54 di atas mengandung sejumlah petunjuk penting tentang penciptaan alam semesta. Lalu bagaimanakah kaitannya dengan pendidikan ?
Ada 6 landasan ideal bagi pendidikan Islam salah satunya adalah Al-Quran.  Al-Quran sebagai pencerahan hidup manusia baik di dunia maupun akhirat[1]. dan kaitannya dengan pendidikan ialah dalam aspek materi pendidikan. Al-‘Araf ayat 54 memberikan pencerahan bagi perkembangan dunia pendidikan, khususnya pendidikan ilmu pengetahuan umum (bidang Astronomi, Fisika, dan Geografi). Surah tersebut memberikan suatu dorongan bagi manusia untuk dapat mengembangkan kemampuan ke-intelektualan mereka dalam mengungkap rahasia penciptaan alam semesta.
Al-‘Araf ayat 54 kami katakan sebagai pencerahan bagi dunia science internasional berdasarkan sejarah kaum Materialisme. pada abad ke-19 orang-orang berpendapat bahwa alam semesta itu kekal, ia terdiri dari materi dengan ukuran tak hingga yang telah ada sejak dahulu dan akan selalu ada. Mereka menolak keberadaan sang pencipta dan menyatakan bahwa alam semesta tidak berawal dan tidak berakhir (faham materialisme dialektika Karl Marx). Einstein pun juga berpandangan sama dengan kaum materialism ini, menurutnya pada mulanya alam ini tiada, kemudian sekitar 15 milyard tahun yang lalu, alam tercipta dari ketiadaan. Dan hal ini sangat bertentangan dengan isi surah Al-‘Araf 54. Alam semesta menurut Islam adalah diciptakan pada suatu waktu dan akan ditiadakan pada saat yang lain.
Sedangkan perbandingan konsepsi Fisika tentang penciptaan alam dengan ajaran Al-Qur’an dapat kita lihat dalam surat Al-Anbiya’ ayat 30 yang berbunyi:
أولم ير الذين كفروا أن السموات والأرض كانتا رتقا ففتقناهما
“Dan tidaklah orang-orang kafir itu mengetahui bahwa langit (ruang alam) dan bumi (materi alam) itu dahulu sesuatu yang padu, kemudian Kami pisahkan keduanya itu”. (Q.S. Al-Anbiya’ : 30).
Pada tahun 1929, di observatorium Mount Wilson California, ahli astronomi Amerika, Edwin Hubble membuat salah satu penemuan terbesar di sepanjang sejarah astronomi. Ketika mengamati bintang-bintang dengan teleskop raksasa, ia menemukan bahwa mereka memancarkan cahaya merah sesuai dengan jaraknya. Hal ini berarti bahwa bintang-bintang ini "bergerak menjauhi" kita. Sebab, menurut hukum fisika yang diketahui, spektrum dari sumber cahaya yang sedang bergerak mendekati pengamat cenderung ke warna ungu, sedangkan yang menjauhi pengamat cenderung ke warna merah. Selama pengamatan oleh Hubble, cahaya dari bintang-bintang cenderung ke warna merah. Ini berarti bahwa bintang-bintang ini terus menerus bergerak.
Jauh sebelumnya, Hubble telah membuat penemuan penting lain. Bintang dan galaksi bergerak tak hanya menjauhi kita, tapi juga menjauhi satu sama lain. Satu-satunya yang dapat disimpulkan dari suatu alam semesta di mana segala sesuatunya bergerak menjauhi satu sama lain a
dalah bahwa alam semesta terus-menerus mengembang. Sebenarnya, fakta ini secara teoritis telah ditemukan lebih awal. Albert Einstein, yang diakui sebagai ilmuwan terbesar abad 20, berdasarkan perhitungan yang ia buat dalam fisika teori, telah menyimpulkan bahwa alam semesta tidak mungkin statis. Tetapi, ia mendiamkan penemuannya ini, hanya agar tidak bertentangan dengan model alam semesta statis yang diakui luas waktu itu. Di kemudian hari, Einstein menyadari tindakannya ini sebagai 'kesalahan terbesar dalam karirnya'.
bahwa 'titik tunggal' ini yang berisi semua materi alam semesta haruslah memiliki 'volume nol', dan
kepadatan.
Apa arti dari mengembangnya alam semesta?
Mengembangnya alam semesta berarti bahwa jika alam semesta dapat bergerak mundur ke masa lampau, maka ia akan terbukti berasal dari satu titik tunggal (pernyataan ini sesuai dengan Al-Quran surah Al-Anbiya’ 30). Perhitungan menunjukkan tak hingga'. Alam semesta telah terbentuk melalui ledakan titik tunggal bervolume nol ini.
Ledakan raksasa yang menandai permulaan alam semesta ini dinamakan 'Big Bang', dan teorinya dikenal dengan nama tersebut. Perlu dikemukakan bahwa 'volume nol' merupakan pernyataan teoritis yang digunakan untuk memudahkan pemahaman. Ilmu pengetahuan dapat mendefinisikan konsep 'ketiadaan', yang berada di luar batas pemahaman manusia, hanya dengan menyatakannya sebagai 'titik bervolume nol'. Sebenarnya, 'sebuah titik tak bervolume' berarti 'ketiadaan'. Demikianlah alam semesta muncul menjadi ada dari ketiadaan. Dengan kata lain, ia telah diciptakan. Fakta bahwa alam ini diciptakan, yang baru ditemukan fisika modern pada abad 20, telah dinyatakan dalam Al-Qur'an 14 abad lampau: "Dia Pencipta langit dan bumi" (QS. Al-An'aam, 6: 101)
Teori Big Bang menunjukkan bahwa semua benda di alam semesta pada awalnya adalah satu wujud, dan kemudian terpisah-pisah. Ini diartikan bahwa keseluruhan materi diciptakan melalui Big Bang atau ledakan raksasa dari satu titik tunggal, dan hal ini telah dituliskan Al-Qur’an[2].
Pada akhirnya anggapan kaum   Materialisme yang salah tersebut dapat dirobohkan, dan terbuka kebenaran yang sesungguhnya.
Enam masa penciptaan alam semesta yang tertulis dalam Al-Quran surah Al-‘Araf  juga dapat di buktikan secara ilmiah dan memberikan pencerahan bagi dunia pendidikan modern. Hal ini tertuang dalam Al-Quran surah Al-Anazi’at [27-33], yang menerangkan secara kronologis bagaimana alam semesta  diciptakan dalam enam masa.
 Apakah kamu lebih sulit penciptaanya ataukah langit ? Allah telah membinanya [27] Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya [28] dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang [29] Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya [30] Ia memancarkan dari padanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhan-Nya [31] Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh [32] (semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu [33] ” (Q.S. An-Nazi’at: 27-33)
Masa I (ayat 27): penciptaan langit pertama kali. Pada Masa I, alam semesta pertama kali terbentuk dari ledakan besar yang disebut ”Big Bang”, kira-kira 13.7 milyar tahun lalu. Bukti dari teori ini ialah gelombang mikrokosmik di angkasa dan juga dari meteorit.
Masa II (ayat 28): pengembangan dan penyempurnaan. Dalam ayat 28 di atas terdapat kata ”meninggikan bangunan” dan ”menyempurnakan”. Kata ”meninggikan bangunan” dianalogikan dengan alam semesta yang mengembang, sehingga galaksi-galaksi saling menjauh dan langit terlihat makin tinggi. Ibaratnya sebuah roti kismis yang semakin mengembang, dimana kismis tersebut dianggap sebagai galaksi. Jika roti tersebut mengembang maka kismis tersebut pun akan semakin menjauhi model roti kismis untuk menggambarkan mengembangnya alam semesta. Mengembangnya alam semesta sebenarnya adalah kelanjutan Big Bang. Jadi, pada dasarnya Big Bang bukanlah ledakan dalam ruang, melainkan proses pengembangan alam semesta. Dengan menggunakan perhitungan efek doppler sederhana, dapat diperkirakan berapa lama alam ini telah mengembang, yaitu sekitar 13.7 miliar tahun.
Sedangkan kata ”menyempurnakan”, menunjukkan bahwa alam ini tidak serta merta terbentuk, melainkan dalam proses yang terus berlangsung. Misalnya kelahiran dan kematian bintang yang terus terjadi. Alam semesta ini dapat terus mengembang, atau kemungkinan lainnya akan mengerut.
Masa III (ayat 29): pembentukan tata surya termasuk Bumi reaksi nuklir yang menjadi sumber energi bintang seperti Matahari. Surat An-Nazi’ayat 29 menyebutkan bahwa Allah menjadikan malam yang gelap gulita dan siang yang terang benderang. Ayat tersebut dapat ditafsirkan sebagai penciptaan matahari sebagai sumber cahaya dan Bumi yang berotasi, sehingga terjadi siang dan malam. Pembentukan tata surya diperkirakan seperti pembentukan bintang yang relatif kecil, kira-kira sebesar orbit Neptunus. Prosesnya sama seperti pembentukan galaksi seperti di atas, hanya ukurannya lebih kecil.
Seperti halnya matahari, sumber panas dan semua unsur yang ada di Bumi berasal dari reaksi nuklir dalam inti besinya. Lain halnya dengan Bulan. Bulan tidak mempunyai inti besi. Unsur kimianya pun mirip dengan kerak bumi. Berdasarkan fakta-fakta tersebut, disimpulkan bahwa Bulan adalah bagian Bumi yang terlontar ketika Bumi masih lunak. Lontaran ini terjadi karena Bumi bertumbukan dengan suatu benda angkasa yang berukuran sangat besar (sekitar 1/3 ukuran Bumi). Jadi, unsur-unsur di Bulan berasal dari Bumi, bukan akibat reaksi nuklir pada Bulan itu sendiri.
Masa IV (ayat 30): awal mula daratan di Bumi. Penghamparan yang di sebutkan dalam ayat 30, dapat diartikan sebagai pembentukan superkontinen Pangaea di permukaan Bumi.
Masa III hingga Masa IV ini juga bersesuaian dengan Surat Fushshilat ayat 9 yang artinya  Katakanlah: ‘Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagi-Nya?’ (Yang bersifat) demikian itu adalah Rabb semesta alam”.
Masa V (ayat 31): pengiriman air ke Bumi melalui komet ilustrasi. komet yang membawa unsur hidrogen sebagai pembentuk air di Bumi Dari ayat 31 di atas, dapat diartikan bahwa di Bumi belum terdapat air ketika mula-mula terbentuk. Jadi, ayat ini menunjukan evolusi Bumi dari tidak ada air menjadi ada air. Jadi, darimana datangnya air ? Air diperkirakan berasal dari komet yang menumbuk Bumi ketika atmosfer Bumi masih sangat tipis. Unsur hidrogen yang dibawa komet kemudian bereaksi dengan unsur-unsur di Bumi dan membentuk uap air. Uap air ini kemudian turun sebagai hujan yang pertama. Bukti bahwa air berasal dari komet, adalah rasio Deuterium dan Hidrogen pada air laut, yang sama dengan rasio pada komet. Deuterium adalah unsur Hidrogen yang massanya lebih berat daripada Hidrogen pada umumnya.
Karena semua kehidupan berasal dari air, maka setelah air terbentuk, kehidupan pertama berupa tumbuhan bersel satu pun mulai muncul di dalam air.
Masa VI (ayat 32-33): proses geologis serta lahirnya hewan dan manusia gunung sebagai pasak Bumi. Dalam ayat 32 di atas, disebutkan ”gunung-gunung dipancangkan dengan teguh.” Artinya, gunung-gunung terbentuk setelah penciptaan daratan, pembentukan air dan munculnya tumbuhan pertama. Gunung-gunung terbentuk dari interaksi antar lempeng ketika superkontinen Pangaea mulai terpecah.
Kemudian, setelah gunung mulai terbentuk, terciptalah hewan dan akhirnya manusia sebagaimana disebutkan dalam ayat 33 di atas. Jadi, usia manusia relatif masih sangat muda dalam skala waktu geologi.
Jika diurutkan dari Masa III hingga Masa VI, maka empat masa tersebut dapat dikorelasikan dengan empat masa dalam Surat Fushshilat ayat 10 yang berbunyi, ”Dan dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya”.
Demikianlah penafsiran enam masa penciptaan alam dalam Al-Qur’an, sejak kemunculan alam semesta hingga terciptanya manusia[3]. Hal ini memberikan pencerahan bagi dunia pendidikan Islam, bahwa segala hal yang dikatakan didalam Al-Quran yang khususnya berhubungan dengan ilmu pengetahuan alam dapat dibuktikan secara ilmiah dan diterima secara global.
Pada kesimpulannya, Al-Quran bukan sekedar kitab suci bagi umat islam dan mukjizat bagi nabi Muhammad SAW, namun ia juga merupakan kitab yang mengandung uraian penting tentang ilmu pengetahuan atau materi pendidikan secara umumnya, Khususnya surah Al-‘Araf ayat 54 sangat terlihat hubungannya dengan ilmu-ilmu alam seperti Fisika, Geografi, Kimia dan Astronomi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar